Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai kriteria pasangan yang kita butuhkan, pasangan yang bisa menjadi partner menuju pulau impian yang sudah kita tentukan sebelumnya. Terkadang dari kita banyak yang menjawab kriteria pasangan yang penting sholeh/sholehah, mapan. Tapi sholeh atau sholehah yang dimaksud seperti apa? Mapan yang dimaksud seperti apa? Tulislah secara detail kriteria pasangan yang kita rasa urgnet harus dimiliki oleh pasangan kita nanti. 

Seperti halnya tentang pekerjaan, harus dibicarakan siapakah nanti yang mencari nafkah dan apabila berjuang from zero membangun bisnis bersama, siapkah dengan konsekuensi penghasilan yang tidak akan tetap dan mungkin saja masih zero untuk kurun waktu tertentu. Masalah yang berhubungan dengan keuangan sangat sensitif sehingga perlu dibicarakan pada masa-masa pranikah.

Sebagai contoh, ada seorang dokter yang tidak mau menikah dengan sesama dokter. Kenapa ? karena dia tidak mau urusan “rumah” terabaikan bila keduanya sama-sama bertugas. Dia sangat sadar bahwa kehidupan pernikahan harus dijalani bersama, sehingga mengharuskan adanya “Bagi Peran”. Kita banyak menyaksikan apa akibatnya jika suami-istri sama –sama fokus mencari nafkah ? Anak menjadi ter “yatim-piatu”kan sebelum waktunya, menjadi anak pembantu, komunikasi kurang baik hingga kehidupan pernikahan berjalan kurang harmonis.

Selain itu terkait tempat tinggal, apakah ada masalah jika setelah menikah mengontrak rumah atau sementara tinggal di “pondok mertua indah” selama beberapa bulan ? Hal ini perlu dibacarakan pada masa-masa pranikah karena termasuk hal-hal yang sensitif. Lalu, kebiasaan-kebiasaan yang mungkin bisa menjadi konflik sebaiknya ikut dibicarakan juga sebelum menikah. 


Ingat kembali dalam menentukan kriteria pasanganpun harus disesuaikan dengan tujuan kita menikah, harus benar-benar yang sesuai, jangan sampai ada pikiran dibenak kita “ah, nanti juga kl udah menikah pasti berubah” Hati-hati terjebak dengan pikiran seperti itu, karena hal itu dapat mengganggu keharmonisan kehidupan pernikahan kita nantinya.

Sebagai contoh, ada seorang perempuan yang secara keseluruhan sudah merasa cocok dengan calon suaminya hanya saja ada satu hal yang kurang perempuan ini sukai, yaitu sang calon suaminya ini perokok, namun sang calon suami ini meyakinkan kepada sang perempuan kalau sudah menikah dia akan berhenti merokok. Namun, pada kenyataannya hingga pernikahan sudah berlangsung bertahun-tahun sang suami tetap saja merokok malah mereka sering bertengkar karena masalah rokok.

Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Kita juga tidak mungkin mendapatkan pasangan dengan seluruh kriteria seperti yang kita inginkan, tapi setidaknya bisa mendekati, namun kita harus tetap tegas untuk hal-hal yang menurut kita sangat penting dan yang menjadi prinsip kita. Intropeksi diri juga, apakah diri kita sudah pantas mendampingi dia yang kriterianya sudah kita tulis.  Jika belum,  maka teruslah pantaskan diri agar Allah segera memantaskan kita untuk mendampinginya :)
Label: ,

Posting Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.