SUDUT HUKUM Pelaksanaan akad nikah pada masa Rasulullah SAW ada kalanya mahar itu disebutkan pada saat nikah, dan diserahkan sekaligus pada waktu itu, atau bahkan sudah diterima sebelum akad nikah. Tetapi juga pernah pada waktu dilaksanakan akad nikah, mahar belum diserahkan dan bahkan tidak disebutkan berapa kadar banyaknya mahar yang harus dibayarkan oleh calon suami. Maka akhirnya para ulama’ menyimpulkan bahwa penyerahan mahar itu bisa secara tunai (kontan) dan bisa juga ditunda (dihutang) dalam penyerahannya. Namun yang lebih utama adalah penyerahan mahar secara tunai, walaupun tidak langsung lunas tetapi hanya sebagian apabila tidak mampu seluruhnya.


Adapun mengenai macam-macam mahar, ulama’ sepakat bahwa mahar itu dibedakan menjadi dua,yaitu sebagi berikut :


a. Mahar Musamma


Mahar musamma adalah mahar yang disebutkan bentuk, wujud atau nilainya secara jelas dalam akad nikah. Seperti kebanyakan yang berlaku dalam perkawinan masyarakat kita yaitu Indonesia. Mahar musamma terbagi menjadi dua:
a) Mu`ajjal
Mahar Mu’ajjal adalah mahar yang segera diberikan kepada istri atau mahar yang di berikan secara kontan.
b) Muajjal
Mahar muajjal adalah mahar atau maskawin yang ditangguhkan pemberiannya kepada istri atau mahar yang pemberiannya secara terhutang.




b. Mahar Mitsil


Yaitu mahar yang tidak disebut besar kadarnya pada saat sebelum ataupun ketika terjadi pernikahan. Atau mahar yang diukur (sepadan) dengan mahar yang pernah diterima oleh keluarga terdekat, agak jauh dari tetangga sekitarnya, dengan mengingat status sosial, kecantikan dan sebagainya.



Bila terjadi demikian, mahar itu tidak disebutkan besar kadarnya pada saat sebelum atau ketika terjadi pernikahan, maka mahar itu mengikuti maharnya saudara perempuan pengganti wanita (bibi, bude, anak perempuan bibi/ bude). Apabila tidak ada, maka mahar mitsil itu beralih dengan ukuran wanita lain yang sederajat dengan dia.
Label:

Posting Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.